Saturday, March 1, 2008

Ayat-Ayat Cinta




This is the talk of the year.... Siapapun pasti tahu dan kenal Ayat-ayat cinta, baik itu novelnya karya Habiburrahman El Shirazy maupun filmnya (disutradarai Hanung Bramantyo) yang sekarang sedang tayang di bioskop. Aku agak terlambat mengenal novelnya, karena aku agak skeptis, bisa gak ya aku memahami isi novelnya yang sangat islami? Ada keraguan di dalam benak aku kalau nantinya akan berat mengerti isi dari novel itu, karena sering dikatakan kalau novel ini juga berisi dakwah islam. Tapi karena seringnya mendengar potongan iklan filmnya di radio Female, rasa penasaran akhirnya mengalahkan rasa raguku. Pucuk dicita ulam pun tiba, hari jumát kemarin suamiku meminjam novelnya dari teman sekantor, dan didalam perjalanan pulang dia menelpon... Bunda, ini bagus sekali.. kamu pasti suka.

Sesampainya suamiku dirumah, suamiku bilang kalau pemilik buku ini (which is a man) sampai menangis membacanya, haru sekali... makin penasaran lah aku, jarang sekali kan laki-laki menangis, apalagi short comment yang ada di pembukaan buku juga memuji-muji. Aku pun membaca novel itu, dan aku tidak bisa berhenti begitu membaca, aku selesai membacanya dalam kurun waktu 5 jam. Memang hampir setiap bagian bukunya memiliki nilai dakwah yang kental, tapi aku tidak perlu mengerutkan kening untuk mengerti, karena disampaikan secara ringan dan catatan-catatan kakinya sangat membantu untuk memahami. It's a wonderfull story. Novel ini mengangkat nilai toleransi terhadap agama lain yang semakin jarang terlihat dicontohkan dikehidupan nyata, mengenalkan sosok ideal muslim dan muslimah dalam diri Fahri dan Aisha (aku yakin nanti pasti banyak ibu-ibu yang menamakan anaknya Fahri dan Aisha karena novel ini..ha..ha..ha), dan mengingatkan aku kalau orang baik dimana-mana juga pasti bertemu orang baik.

But.. I did not shed a tear when I read the book, memang aku merasa sejuk dan damai setelah membaca novel ini, tapi gak sampai nangis. Karena menurut aku didalam buku ini yang dijelaskan secara gamblang adalah point of view nya Fahri dan aku kurang bisa membaca perasaan dan ekspresi dari tokoh lain. Yang makin bikin aku penasaran, akhirnya di hari sabtu aku mengajak suami untuk menonton filmnya.

Aku selalu berpendapat kalau buku selalu lebih bagus dari film dengan judul sama, tapi ternyata aku salah. Filmya bagussss sekaliiiii, lebih kaya warna . Kalau di novel tokoh Aisha digambarkan sangat ideal dan tidak memiliki keraguan, di film tokoh Aisha digambarkan lebih membumi, memiliki sekilas keraguan dan rasa cemburu (walaupun dalam konteks yang tetap muslimah ideal). Dan Maria, aduh aku jadi ngenes banget lihat tokohnya, she's really fragile and she's my favorite (two thumbs up for Carissa Putri yang sukses memerankan Maria). Aku benar-benar menangis disaat menonton filmnya. apalagi melihat tokoh Maria. Cerita filmnya tidak 100% sama, tapi tidak melenceng dari garis besar bukunya. Indah sekali dan benar-benar mengaduk-aduk perasaan (psst, suamiku juga ikut haru lho). Saat menonton filmnya, kita seolah-olah dibawa untuk ikut merasakan perasaan tokohnya, melihat indahnya Mesir (padahal syuting dilakukan di India, Jakarta dan Semarang, gak ada yang di Mesir). Aku gak mau cerita isi filmnya, karena terlalu indah buat diceritakan. Bagian yang menjadi favoritku adalah saat Fahri dipenjara dan di berikan nasehat oleh teman satu selnya yang notabene adalah kriminal (ini berbeda dengan di buku, yang ,yang menceritakan teman satu sel Fahri adalah orang-orang baik yang sama sama tersandung fitnah), yang mengingatkan aku akan pepatah "Jangan melihat siapa yang bicara, dengarkan apa yang dibicarakan". Pesan dakwah memang tidak harus keluar dari alim ulama ya, asalkan kita mau membuka hati, pasti pesan kebaikan bisa berasal dari siapaun juga.

So Guys and girls, please do buy the book and watch the movie, both are great. Jadikan koleksi dan hadiahkan buat orang-orang tersayang. Kalau Syahan dan Kassandra sudah dewasa, this is definitely the book I will urge them to read. Mudah-mudahan makin banyak cerita yang menggambarkan tokoh ideal seperti Fahri, Aisha dan Maria. Supaya anak-anak kita mengenal tokoh yang utuh islami, penuh ilmu, penuh kasih. Intinya mereka tokoh-tokoh yang idealis tanpa fanatisme berlebih... Amin.

(Gambar buku diambil dari tribuku.com dan gambar film dari www.rumahfilm.com)