Friday, June 12, 2009

Arti Saudara......


Ayyu dan Khalif, Rally, dan Riza


Rosaliya "Ayyu" bersama keluarga ,Razi dan keluarga dan aku sama anak-anak



Saudara…satu kata dengan sejuta arti… Pernah gak sih mencoba untuk duduk sejenak, merenung tentang arti saudara? Well, recently..I have. Mungkin karena beberapa waktu belakangan ini aku menjadi sedikit sentimentil, atau memang karena momentnya lagi pas. Sepulangnya aku dari Aceh, aku jadi sering merindukan masa-masa aku masih menjadi seorang anak, seorang saudari yang memiliki 4 saudara. It was very beautiful.

Aku ingat dulunya aku lebih banyak menjalankan peran solitaire dalam keluarga. Aku tidak terlalu dekat dengan saudara-saudaraku, satu-satunya orang yang aku dengar dan sayangi dalam keluarga hanyalah Bapak (alm). Bisa dikatakan aku dulunya bukanlah saudari yang baik, bahkan bukan putri yang baik buat ibuku. I felt that I don’t need them, as long as I have my father and my father’s love, I just don’t need them. Tapi seperti semua cerita pasti ada titik balik. Dan titik balik itu tiba saat Bapak meninggal. Pertama-tama aku merasa marah sekali, kenapa Tuhan mengambil satu-satunya orang yang menyayangi aku. Tetapi sejalannya waktu aku tahu kalau mereka (mama, abang-abang dan adik-adikku sangat menyayangi aku lebih dari yang aku tahu.

Aku ingat abang-abangku tidak pernah marah kepadaku, walaupun aku sering menyusahkan mereka. Pernah sekali waktu aku pulang terlambat 30 menit pulang dari sekolah, Bapak (alm) sangat marah sekali pada abang-abangku, mereka dianggap tidak memperhatikan adiknya. Abangku yang kedua harus selalu mengalah padaku, entah itu tentang jatah memakai mobil, jumlah uang saku, harga barang yang boleh aku beli. Abang-abang dan adikku harus selalu memastikan ada yang mengantar dan menjemput aku sekolah, kuliah dan sampai aku bekerja karena keenggananku memakai angkutan umum. Mereka selalu memastikan aku bersama orang yang baik, mereka harus menyediakan waktu kapanpun aku perlu. I was so selfish at that time, dan entah kenapa aku sama sekali gak merasa bersalah dan dihadapanku pun mereka tidak pernah mengeluh (entah dibelakangku karena mereka gak berani mengeluh sama bapak, jadinya paling mereka bisa mengeluh sama mama). Dengan adikku perempuan satu-satunya juga aku tidak terlalu dekat, sometimes we talk about girl’s stuff, jalan bareng, berbagi baju dan parfum..but that’s it, I don’t know her really well.

Setelah aku menikah semuanya jadi berbeda. Aku merasa sayang sekali dengan mereka, rasanya aku ingin memeluk dan meminta maaf sama mereka, maaf karena menjadi saudari yang manja dan egois. Maaf karena jarang mau mengerti mereka, dan maaf karena terlambat menyadari anugerah indah yang Tuhan berikan padaku. 4 anugerah indah bernama Riza, Razi, Rosaliya, Rally…

Saudaraku…mereka akan selalu perduli akan keadaanku. Mereka tidak akan menjauh walaupun aku membuat mereka hampir gila karena kesal atau marah. Mereka akan menyimpan aku dalam hati mereka, mendoakan yang terbaik untukku di tiap doanya, dan menyimpan pelukan buatku disaat aku ingin menangis. Nah..buat kalian berempat (Riza, Razi, Rosaliya, dan Rally), I wanted to thank you for still considering me as your sister, I know I drove you mad, but I really do love you…kalian tak akan terganti dan boleh aku mengatakan kalian saudara sekandung terhebat di dunia. Dan aku akan belajar menjadi saudari yang baik buat kalian semua., belum terlambat kan???