Wednesday, December 22, 2010

"Tradisi Hari Pengambilan Raport"

Kemarin dan tadi adalah hari jadwal aku mengambil raport dari sekolah anak-anak. Kassandra yang masih TK kebagian hari Rabu, sedangkan mas Syahan yang kelas 2 SD kebagian hari kamis. Seperti biasa kalau pengambilan raport guru-guru juga mengkomunikasikan perkembangan anak-anak, prilaku mereka di sekolah serta himbauan supaya anak-anak bisa berkembang lebih baik lagi di masa mendatang. Standar, klasik dan alhamdulillah membanggakan karena anak-anak berkembang baik dan prilakunya juga gak ajaib disekolah.

Hari ini pada saat akan mengambil raport Syahan aku jadi teringat masa-masa pengambilan raport aku dan saudara-saudaraku waktu kita masih sekolah. Terutama ketika 3 diantara kita masuk SD dan abang tertuaku sudah di SMP, pada saat itu kita tinggal di Timor-Timur, entah kenapa memang Tim-Tim jadi tempat yang paling banyak kenangan buat aku. Pembagian raport selalu menjadi hari istimewa yang aku sukai. Pengambilan raport mengingatkan aku berarti liburan datang, dan hal menyenangkan selalu kami alami dihari pengambilan raport.

Pagi hari kami selalu berangkat sekolah duluan, kemudian sekitar pukul 10 Mama akan datang ke sekolah, lalu bergiliran mengambil raport anak-anaknya satu persatu. Mama selalu terlihat cantik disaat hari pengambilan raport. Sepertinya beliau memang selalu berdandan ekstra teliti kalau akan ke sekolah kami, lain dengan aku yang sekarang saat pengambilan raport pokoknya sekedar rapi dan wangi..hehehehe...Dan memang hasilnya selalu membuat kami bangga. Komentar dari teman-teman kami dulu...Ihh Ibunya Inong cantik ya..hahaha...dan akupun sebagai anaknya akan merasa bangga dan terbang ke langit ke tujuh. Dan hasil raportpun dibagikan, sambil deg-degan aku akan menunggu di luar kelas, ingin melihat reaksi Mamaku pada saat keluar kelas. Kalau beliau tersenyum berarti beliau puas dengan hasil raport dan laporan dari guru, kalau beliau cemberut artinya ada sesuatu yang kurang menyenangkan telah terjadi di dalam kelas. Syukurnya, Mama hampir selalu puas dengan hasil raport kami semua, jadi cemberut beliau tidak terlihat. Aku ingat sekali-kalinya mama cemberut keluar dari kelasku adalah pada saat aku di kelas 5 SD, bukan hasil di raportnya yang tidak bagus, cuma prilaku di kelas yang menurut guru agak mengganggu..hehehe...puber kali ya??

Aku gak tau banyak soal raport abang tertuaku, karena jarak umur kita memang agak jauh, jadi pada saat aku kelas 4 SD, dia sudah di SMP. Kalau dengan abang kedua dan adikku aku banyak tau karena kita jarak umurnya memang lumayan dekat. Nah kalau boleh dikasih panggilan, Bang Razi, abangku kedua adalah yang paling menonjol prestasinya, selalu ranking, selalu bagus prilakunya, Top of the pack . Kalau aku ya...rata-rata alias average lah, nilai di raportku selalu stabil, kalau adikku adalah surprisingly brainy...lho kenapa? karena walaupun dia memang selalu bagus nilai-nilainya, dia bisa melompat ke tipe excellent kalo ada pemicunya. Ingat pada saat dia kelas 1 atau 2 ya (lupa), dia kepengen sekali punya sepeda. Dan dia bilang sama Mama "Ma, Ayu kepengen sepeda" nah si Mama yang pikirannya lagi melanglang buana entah kemanapun menjawab "Nanti kalau Ayu ranking 1 Mama beliin deh sepeda". Mama pada saat itu gak berfikir kalau Ayu bisa dapat ranking 1 karena menganggap Ayu anak yang masih manja banget, minum susu aja baru lepas dari dot... But as they say...don't judge a book by it's cover. Pada saat penerimaan raport Ayu pun menjadi ranking 1, dan dengan jahilnya pada saat Mama melirik ke arahnya dia langsung berkata jahil "Kring...kring..kring.." menirukan suara bel sepeda...Hahahaha.... No excuse ya Mama...

Mama juga selalu membuat tradisi disaat hari pengambilan raport, nah walaupun Bapak tidak pernah mengambil raport kami (cuma pernah pada saat aku menerima NEM dan STTB SD Bapak yang mengambilnya) tapi beliau sangat perduli. Bahkan kalau beliau sedang diluar kota, beliau akan menelpon ke rumah (jaman dulu kan belum ada ponsel) menanyakan prestasi anak-anaknya. Kalau beliau puas, wah rasanya bahagia sekali. Kalau Bapak merasa puas, maka Mama akan mengajak kami makan diluar. Ihhhh senang sekali rasanya makan-makan setelah pengambilan raport. Padahal restorannya juga sering ditandangi dihari-hari lain, tapi tetap saja rasanya berbeda dan bangga sekali...xixixi. Konyol ya, hal-hal kecil seperti itu bisa bikin anak-anak luar biasa senang. Pada saat di Tim-Tim tempat favorit kami adalah "Hotel Turismo", nah disana tersedia es krim yang rasanya hmmmm yumm yumm, dan semacam burger yang rotinya bukan burger bun biasa tapi dari roti Paung (roti khas Timor) yang teksturnya mirip sama Bagguete, tapi yang paling aku ingat dari kesenanganku pergi kesana adalah karena di hotel itu sambil makan kita bisa melihat buaya yang ada dikolam hotel, dulu rasanya melihat buaya itu kok ya besar dan menyeramkan, padahal biasanya buaya itu cuma ngadem dan diam aja didalam kolamnya..hehehe.

Mama memang sosok ibu yang unik sekali, buat aku sekarang mama adalah perpustakaan memori, banyak sekali kenangan dan tradisi indah yang mama ciptakan didalam keluarga kami, tradisi "Hari Pengambilan Raport" adalah salah satunya...hehehe... Which reminds me to do the same thing for my children. Jadi aku dan suami berusaha untuk menciptakan tradisi kecil yang mudah-mudahan bisa menjadi memori indah buat mereka, dan bisa mereka ingat dengan bahagia disaat mereka dewasa. So di hari pengambilan raport ini setelah pengambilan raport akupun merencanakan melakukan hal yang fun buat anak-anak, saat dihadapkan pada pilihan berenang atau jalan dan makan di mall, anak-anak memilih buat berenang. So....nanti sore kita akan berenang ya anak-anak, setelah itu kita makan pizza...

Happy holiday to all, and Happy Mother's day to my incredible MOM...

Thursday, September 2, 2010

Teringat Bapak dini hari ini

Entah kenapa malam ini aku sampai gak bisa tidur karena ingat sama (alm) Bapak, mungkin karena kemarin ultahku dan somewhere in my heart, aku berharap Bapak masih bisa mengucapkan "Selamat Ulang Tahun ya nak..." buat aku, entahlah yang jelas malam ini aku merasa kangen sama (alm) Bapak.

Banyak sekali kenangan yang aku punya tentang Bapak, dari yang lucu sampai yang menyeramkan. Indahnya punya orangtua seperti Bapak dan Mama adalah mereka senang sekali bercerita tentang apa saja, baik pengalaman hidupnya, cerita tentang saudara2nya, dan kadang banyak kekonyolan yang sering terjadi diantara kami kakak beradik dan mereka. Aku gak akan cerita yang sedih2 karena banyak yang aku ingat hari ini adalah kenangan yang menyenangkan.

Seperti kebanyakan orangtua jaman dulu, (alm) Bapak menginginkan salah satu (atau lebih) dari anaknya menjadi seorang dokter, kata beliau dulu. Abangku yang tertua memilih untuk kuliah di Perbanas karena memang pada saat itu dunia perbankan lagi booming, abangku yang kedua juga kurang tertarik untuk menjadi dokter. Aku yang pada saat SMA mengambil jurusan Biologi pun akhirnya sama sekali tidak mengambil pilihan untuk fakultas kedokteran, alasannya karena sedikit sebal pada Bapak yang tidak memperbolehkan aku kuliah diluar kota, teringat pada saat mendiskusikan pilihan fakultas Bapak malah bilang "Jangan kuliah jauh-jauh, Inong disini saja dekat Bapak". Mungkin jika aku memilih kedokteranpun aku gak akan lulus, tapi ya itu alasannya cuma karena sebal. Akhirnya tiba adikku yang akan lulus SMA, Bapakpun tidak lupa akan keinginannya untuk memiliki dokter diantara anak-anaknya, pada adikku Ayu (yang jelas2 jurusan IPS)dia pun bilang "Yu, daftar di kedokteran dong, kan bagus kalau salah satu dari kalian ada yang jadi dokter"..hahaha, memang terkesan agak desperate ya, adikku yang notabene juga lucu malah menjawab "Haduh Pak, nyuruh Ayu masuk kedokteran itu bagaikan bergantung pada dahan yang patah".... kami sekeluargapun akhirnya tertawa terbahak2 saat itu, Bapak pun tertawa geli, entahlah apakah beliau masih kecewa atau tidak saat itu.

Bapak buat aku (sama seperti orang lain) adalah orang yang sangat istimewa, karena terus terang saja banyak kebisaan-kebisaan yang sebenarnya biasa diajarkan oleh ibu kepada anaknya, aku malah mendapatkannya dari Bapak, contohnya saja memasak, aku ingat masakan pertama yang pernah aku buat selain telur ceplok adalah tumis sawi hijau yang merupakan makanan favorit Bapak. Beliau sangat suka sayur dan buah, kebiasaan bagus yang akhirnya ditularkan ke aku. Pernah suatu kali waktu aku berumur 12 tahun jendela rumah dinas kami (yang berupa kaca nako yang bisa dibuka tutup) macet total, tidak bisa dibuka sama sekali. Bapakpun akhirnya mengambil bulu ayam dan secangkir kecil minyak goreng, kami pun mengolesi semua engsel jendela itu sambil ngobrol, rasanya senang sekali... Bapak bilang "Kalau nanti jendela rumah kamu kelak ada yang macet, kamu bisa ngalahin suami kamu ngebenerin jendela" aku dengan acuh pun bilang "Inong mau tinggal sama bapak aja terus", beliau pun tersenyum sampai mata sipitnya tertutup rapat...I really miss him a lot. Dulu aku dan adikku sempat dinasehati "Jadi perempuan itu harus bisa menjahit, harus pintar memasak, biar disayang sama suami nanti"...aku sih manut-manut aja, tapi adikku selalu punya jawaban buat nasehat Bapak, dia bilang "Gimana mau masak Pak, lah Ayu masak air aja bisa kering.." Bapak gak pernah bisa menahan senyum kalau adikku sudah menjawab.

Sewaktu kecil kalau Bapak dinas keluar kota Mamaku udah pasti akan deg-degan, karena entah kenapa badanku selalu panas kalau Bapak gak ada, dan walaupun sudah dibawa ke dokter aku baru akan sembuh kalau Bapak pulang, sampai kalau memang bisa Bapak memilih untuk membawa aku untuk pergi dinas. Waktu berdinas di Timor dulu, aku sempat dibawa ke Los Palos yang notabene emang jauh banget dan terus terang saja sangat beresiko mengingat Timor memang tempat yang sangat rawan. Tapi aku gak perduli, aku lebih memilih bolos sekolah dibandingkan ditinggal Bapak, kebiasaan yang aku teruskan sampai SMA..hehehe...jangan ditiru ya Syahan dan Sandra. He was the center of my universe back then, Bapak sedikit mulai menjaga jarak pada saat suamiku (dulu masih pacar) menyatakan ingin melamar

Hari itu aku masuk ke kamar Bapak dan mama dan bilang "Bapak, si Abang (panggilan aku buat suamiku dulu) mau melamar", reaksi Bapak pertama kali adalah "Kamu kan masih kecil, kok cepat banget mau kawin??" ...dalam hatiku bertanya "Hmmm, 22 masih kecil ya??" reaksi yang diimbangi dengan pelototan mata mama "Apa...masih kecil?" dan mama langsung bilang "Inong, keluar!!".... Entah apa yang mereka bicarakan yang jelas setengah jam kemudian aku dipanggil lagi dan mama bilang "Bilang sama Abang, silahkan melamar tapi harus pake adat, gak pake solo karir" hehehe... (maksudnya harus ada seulangke dalam adat aceh). Aku gak berani melihat ke Bapak, karena pada saat itu beliau menyembunyikan bibirnya di balik bantal dan aku sempat melihat ujung bantal itu sedikit basah...Setelah itu beliau lebih banyak menghabiskan waktu luang bersama adikku, yang sempat bikin aku sangat sebal... tapi mama mengingatkan "dalam 6 bulan kamu udah jadi istri orang, kamu ngerti dong perasaan bapak gimana??"

Bapak yang memilih baju kebayaku, setelah mama membawa beberapa pilihan kain, Bapak memilih yang berwarna putih. Bapak memang tidak sempat melihat aku menikah, apalagi menimang cucu2nya, tapi aku percaya kalau beliau masih ada, beliau pasti akan senang melihat aku dan keluarga kecilku, senang melihat abang2 dan adik2ku sekarang. Sekarang setiap kali suamiku memanjakan Kassandra, aku seperti melihat aku dalam diri Kassandra, cuma yang berbeda mungkin aku gak seperti mamaku yang agak sewot melihat aku dan (alm) Bapak sangat dekat dulu (atau mungkin belum ya??). Beliau pasti akan senang melihat Syahan dan Kassandra yang suka saling usil (kalau kata abangku persis seperti Bang Riza dan aku sewaktu kecil), Suci yang cantik sekali, dan Khalif yang punya percaya diri luar biasa....Bapak, semoga Bapak bangga melihat kami semua dan semoga Bapak tenang di alam sana...Amin ya Allah...

Wednesday, January 27, 2010

My Holiday Story....Bali....


Syahan "the beach boy"


Ada apa di Bali??? Seperti yang sudah kita semua tahu pasti ada Tanah Lot, pantai-pantai yang indah, orang-orang yang beneran holiday conscious dan penuh para bule..he..he..he..Itu sih semua pasti sudah tahu.. Nah kalau biji kopi ternyata punya gender? Itulah pengetahuan baru yang aku dapet setelah berlibur ke Bali akhir januari lalu.

Aku sekeluarga akhirnya bisa liburan serius sama-sama ke Bali, lho kok? bukannya sering jalan-jalan? Iya sih, tapi liburan kali ini emang beda. Karena yang ini emang direncanakan secara 1/2 matang (he..he..he, rough planning aja, karena pas jalan bisa dimodifikasi sesuai sikon) dan kali ini kita menginap diluar rumah lebih dari 1 malam.


one out of many landmarks of Bali..Tanah Lot

Well, ini emang liburan biasa dan pilihan tempatnya pun standar banget buat yang liburan ke luar kota, kemana lagi kalau bukan ke Bali. Dan tempat yang aku kunjungi juga bukan tempat yang aneh bin ajaib dan beda dari yang lain, standar juga buat orang yang berlibur ke Bali. Milih tempat yang khas seperti tanah Lot, Kintamani, Desa Ubud. Trus ke pantai yang emang dimana-mana lah di Bali,Kuta, makan malam di Jimbaran, Nusa Dua. Mungkin yang agak baru milih ke Bird & Reptile Park yang ada di arah Ubud.

Tapi...yang mau aku cerita sebenarnya bukan kemana aku pergi, aku cuma pengen berbagi gimana suasananya aja pas pergi bawa 2 anak. Awalnya aku udah ngebayangin repotnya membawa mereka, tapi sekali lagi emang niat pergi kali ini memang mau menyenangkan mereka yang selalu agak iri kalau ngeliat ayahnya pergi ke luar kota terus, apalagi naik pesawat. Buat anak sebesar mereka emang rasanya amazing banget naik turun pesawat..ha..ha..ha..Syahan pernah berkomentar "Rasanya ajaib Bunda"... emang gimana ya rasanya ajaib?. Dan memang terus terang gak gampang membawa mereka dan membuat mereka terus terhibur sepanjang waktu tanpa bikin kita naik darah.

Kassandra jauh lebih menikmati liburannya, mungkin memang pada dasarnya dia lebih suka dengan alam terbuka dibandingkan mas Syahan yang udah mulai agak rewel dan suka mengeluh dengan panasnya udara (Alhamdulillah banget 3 hari kita jalan-jalan hujannya baru turun menjelang kita sampai hotel). Hari pertama setelah sampai kita cuma jalan-jalan di Kuta Square dan main ke pantai kuta. Hari kedua dan ketiga kita jalan seharian ngubek-ngubek tujuan wisata Bali. Pergi pagi pulang malam. Capek memang. Thanks God that I've got 2 kids, because one of them always take the courtesy of entertaining if the other one was bored. Jadi lucu aja ngeliat Syahan coba ngebujuk Sandra buat nyebur ke kolam, atau ngeliat Sandra manggil-manggil Syahan dari atas tangga, ngasih semangat buat naik "Ayo, terus, sedikit lagi, ayo..ayo.." ha..ha..ha.. lucu banget. Tapi memang berlibur barengan anak-anak memang pake skala prioritas, pilih mana mau nyenengin anak-anak atau mau nyenengin orangtuanya. Karena memang ada beberapa wahana yang sebenarnya fun buat orang dewasa dan pengen kita coba tapi belum tentu anaknya berani (misalnya parasailing, flying fish, snorkling dst). Prioritas kali ini ya memang untuk menyenangkan anak-anak, jadinya kitanya ekstra capek..he..he..he..berkorban dikit lah ya buat anak. Tapi beneran senang kok ngeliat anak-anak kita puas.

Kita sengaja memilih untuk menyewa kendaraan plus sopirnya dari hotel, pertimbangannya...biar kita lebih bisa membuat anak-anak merasa nyaman, bayangkan aja kalau ayahnya dan aku gantian nyetir, otomatis pasti cuma 1 orang dewasa yang perhatian sama 2 anak itu, wah..kebayang kan kalo semuanya bisa jadi lebih cepat Bete. Pilihan yang menurut aku (Alhamdulillah) pas, karena sopirnya emang tau banget jalan-jalan pintas menuju lokasi, dan bisa kasih rekomendasi tempat apa saja yang layak dikunjungi dan harus makan dimana, karena toh kita juga gak bisa makan disembarang restoran...Thanks ya Bli Edy, you made our holiday much easier and fun.

The great thing about Balinese people is that they really take tourism seriously, so gak sulit untuk bikin waktu yang kita habiskan di sana menyenangkan dan berkesan,sifat ramahnya itu bener-bener tulus. Tapi itu gak berarti kita bisa percaya mentah2 sama semua orang. Hati-hati aja deh kalau ada yang nawarin hotel gratis untuk kunjungan berikutnya, atau meminta no telp kita dengan alasan survey. Bisa bikin liburan terganggu deh pokoknya.


asyik kan disuguhi kopi-kopi ini....


Yang paling berkesan buat aku liburan kali ini adalah pada saat kita mampir ke kebun kopi di daerah Seribatu buat coffee tasting, aku baru ngeh kalo ternyata kopi itu ada yang perempuan, ada yang laki. Harga kopi laki itu 3 kali lipat kopi perempuan. Nah di tempat itu kita disuguhi bermacam seduhan minuman panas, male coffee, female coffee, ginseng coffee, teh sereh, teh jahe dan coklat panas. Dan semuanya gratis...kecuali kopi luwak yang per cangkirnya dihargai 30 ribu. Tapi aku gak suka rasa kopi luwak...bingung juga apanya sih yang enak? mungkin bukan ahli kopi kali ya..ha..ha..ha..


Sempat mengunjungi Bakal Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di daerah Ungasan, wah
ini patung kalo udah jadi bakalan keren banget, sayang dari masa Soeharto sampe sekarang yang udah jadi baru sekitar 25%, mudah-mudahan bisa selesai deh. Masa harus nunggu ganti Presiden lagi baru jadi. Sayang aku gak sempat ke Renon, pusat pemerintahan disana tempat perang Puputan, padahal Syahan senang banget pergi ke tempat-tempat yang ada unsur sejarahnya. Maybe next time deh.

So Guys...mau liburan? jangan lupa bikin rencana kasarnya dulu ya, supaya lebih fun dan terukur. Nah kalo masalah belanja, jalan Poppies menawarkan kaus-kaus murah dan lucu, kalo mau yang serba ada toko Krisna boleh dicoba karena selain lengkap udah ada harga bandrolnya, disini aku dapat tas anyaman pandan yang rapi banget. Hasil hunting favoritku adalah poci set keramik yang dapat di tanah lot (disini juga harganya murah dan masih bisa nawar) dan cermin mosaik buat kamar anak-anak. Saranku, beli barang yang bisa kepake dan unik, kalo beli baju yang biasa aja toh di Jakarta juga banyak, see you on the next story ya. So guys...ready to go to Bali? it will be much fun than to go to Singapore (yeah right, I've never been to Singapore before, so what do I know?..ha...ha..ha..)

Sunday, September 27, 2009

As they Grow....



My little Fellow then, my little Man now

Selama kepulangan asisten rumah tanggaku pas masa mudik kemarin pastinya aku dan suamiku harus turun tangan sendiri mengurus rumah dan anak-anak. Mengurus rumah sih gak terlalu berat karena toh rumahku juga gak besar-besar amat dan ada kak Ima dan bang Razi juga yang ikut repot ngebantuin. Nah Kalau urusan mengurus anak-anak kan memang harus dipegang sendiri. And I'm a bit surprised by how much they have grown.

Bukannya aku gak ngurusin anak-anak pada saat mbaknya ada hanya biasanya kalau ada mbaknya aku tinggal ngajak main ,nganter jemput sekolah, makan bareng, menggambar, menyanyi dan nonton kartun bareng. Pokoknya doing the fun parts sedangkan urusan mandi ganti baju dan urusan remeh-temeh gak butuh interaksi penuh dan less fun biasanya langsung aku delegasikan ke mbaknya.



Baby Kassandra and Girlie Kassandra

Beberapa hari yang lalu aku dan keluarga jalan-jalan ke salah satu Mall dan my little Kassandra sedikit mengantuk, di Mall tersebut biasanya meminjamkan baby's pram untuk anak-anak dan aku langsung kepikiran buat meminjam pada saat aku menghampiri counter, mbak CS nya bilang "Kita harus lihat baby-nya dulu bu" dan aku dengan Pede menunjukkan Kassandra yang sedang digendong ayahnya dan mbaknya langsung bilang Bu, maaf..sepertinya gak bisa, anaknya udah terlalu besar...aku dan suami langsung saling memandang dan dalam hatiku terbersit "Kan Kassandra masih bayi". Pikiran yang belakangan aku sadari jelas-jelas salah Kassandra sekarang 4 tahun dan kecuali kebiasaan malas bicaranya dia jelas-jelas bukan lagi bayi. Dia sudah bersekolah di Taman Kanak-Kanak sudah bisa makan sendiri dengan lumayan rapi sudah lihai menyusun puzzle yang lumayan rumit dan sangat ekspresif dengan perasaannya. Bukankah baru kemarin rasanya dia tumbuh gigi pertama.

Perhatianku lalu beralih pada Syahan, pada saat aku membantu dia mencuci tangan sehabis makan, aku memperhatikan kalau tangannya tidak lagi semungil dulu, jari-jarinya sudah panjang dan gak ada lagi sisa-sisa baby's fat yang rasanya masih ada kemarin di jari-jarinya. Aku melihat ke cermin dan menyadari tingginya sudah sedadaku dan dia bukan lagi anak kecil yang masih bergantung pada bundanya dia sudah sangat mandiri tidak perlu disuapi tidak perlu dibantu memakai kaus kaki dan tidur pun sudah di kamar sendiri. Dia sudah mulai berpuasa (hal yang tadinya agak enggan aku kenalkan tapi diyakinkan oleh bang Razi), gigi dewasanya sudah mulai tumbuh. Anakku Syahan sudah tumbuh menjadi lelaki kecil yang mandiri dan insya Allah cerdas. Bahkan Syahan sudah bisa dengan tegas menyatakan sikap like or dislike. "Aku suka museum" atau "Aku gak suka bunda pergi lama-lama", "Ayah aku senang ayah pulang cepat", atau "Aku sayang Kassandra, dia imut"(he..he..he..senang kan liat kakak sayang adek). He's quite critical for a man his age.

Kemana sih tahun-tahun itu berlalu? betapa cepat rasanya mereka besar, Syahan dan Kassandra...rasanya baru kemarin mereka lahir dan membuat aku terjaga tengah malam, rasanya baru kemarin mereka memakai popok. Tersirat rasa senang karena anak-anakku sudah tumbuh dengan sehat (Alhamdulillah ya Allah) tapi juga tersirat rasa takut karena mereka sudah makin mandiri dan punya dunia kecil mereka untuk dinikmati. Berapa lama lagi ya aku masih bisa mencium Syahan dengan bebas tanpa dia merasa canggung, berapa lama lagi Kassandra merengek minta ikut kalau aku mau keluar rumah.

Aku juga menyadari kalau tugasku untuk memperkenalkan disiplin kepada mereka sudah dimulai sejak sekarang karena mereka bukan lagi bayi kecil yang bebas merdeka tapi mereka sedang tumbuh menjadi calon orang dewasa yang memiliki dunia penuh aturan. Selagi aku menulis di blog ini aku sedang menyusun House Rules buat my cheeky princess and my young Man. Walaupun jauh didalam hati aku tahu kalau Syahan dan Kassandra akan bisa menjadi disiplin dengan sejalannya waktu tetap saja didalam hatiku bertanya Is it the right time to do this and can I do it? ...Doakan saja ya para bloggers. Dan buat Syahan dan Kassandra I love you both so much and I hope that you love me too

Sunday, August 16, 2009

OUd Batavia Part 1 Museum Fatahillah


meriam jagur yang unik dan katanya magis

Tahu gak kalau J.P.Coen itu tingginya 3 meter?, trus pernah gak bertanya kalau istilah "duit" yang berarti uang itu asalnya dari mana? itu pengetahuan baru yang aku dan keluargaku dapatkan dari perjalanan kali ini. And I'm gonna share it with you.

Awalnya long weekend kali ini kami tidak akan kemana-mana, ada sih kepikiran buat jalan ke luar kota seperti Bandung atau Puncak, tapi begitu membayangkan macetnya, jadi keder juga. Tapi setelah dipikir lagi rasanya sayang deh kalau long weekend yang agak-agak langka cuma dihabiskan dirumah dan sekitar BSD, akhirnya kepikiran juga untuk mengunjungi oud Batavia atau kawasan kota tua Jakarta.

Memang ya, google is really my soul mate for this kind of thing, karena walaupun sudah tinggal selama 7 tahun di Jakarta dan sekitarnya aku sama sekali belum pernah menapakkan kaki di daerah kota tua (yang tersebar mulai dari stasiun kota sampai daerah pelabuhan sunda kepala). Pas googling ternyata banyak tempat yang ditawarkan untuk dikunjungi. Pilih punya pilih akhirnya ada beberapa tempat yang kami pilih yaitu museum Fatahillah, kampung Bahari, Pecinan Glodok, Jembatan Intan, dan museum wayang. Tujuan pertama adalah museum Fatahillah yang dulunya adalah staad Huis atau Balai kota Batavia.

Pertama kali sampai di pelataran museum ternyata lumayan ramai lho pengunjungnya, dan setelah membayar tiket masuk yang menurut aku kelewat murah (Rp.2000 untuk dewasa dan Rp.600 (???) buat anak-anak)kami memutuskan untuk memakai guide yang memang disediakan oleh pihak museum, biar lebih afdhal. Pilihan yang berakhir sangat baik. Selama kurang lebih 2 jam berkeliling, pengetahuan kami tentang isi museum dan sejarah Jakarta agak nambah. Kalau sempat gak pake guide yang ada mungkin kami akan bingung melihat koleksi museum ini.

Nah pengetahuan yang kami dapat lumayan unik dan bikin aku bersyukur banget hidup di zaman merdeka..ck ck ck, walaupun memang katanya masa Belanda lebih gak kejam dibandingkan Jepang, tetap aja merana banget nasib nenek moyang kita dulu. Bukan cuma kekejaman Daendels yang maksa bikin jalan Anyer-Panarukan dan rel kereta Jakarta-Surabaya, yang lain lebih banyak.

Pas ngelihat penjara misalnya, penjara laki-laki berbentuk kubah dan kalau ngebayangin kakek-kakek kita zaman dulu, jelas kayaknya mereka gak akan bisa berdiri bebas. dan aliran udaranya cuma ada 1 yaitu dari jendela yang ukurannya gak nyampe 2 meter. Dan di dalam ruangan penjara itu biasanya memuat 100 orang, bahkan pada saat pembantaian kaum tionghoa tahun 1793 penjara itu dipaksa untuk memuat 150 orang. Ngerinya lagi semua kegiatan dilakukan disana, dari BAK, BAB, huh...beneran deh harus bersyukur jadi orang merdeka. Penjara wanitanya kalau menurut Syahan lebih kejam..ha..ha..ha, agak tergenang air dan gelap karena berada di ruangan bawah tanah. Cut Nyak Dhien sempat dipenjara disana sebelum akhirnya dipindahkan ke Sumedang. Air minum buat tahanan, ya..sama deh dengan air minum buat kuda. Ada juga bunker tempat menghukum orang, katanya zaman dulu orang yang dihukum (kalau gak dihukum mati), bakalan diikat tangan dan kakinya, trus dimasukkan ke bunker yang berisi air sedada...dan kedalam air dimasukkan lintah..ueghhh.


pintu menuju balkon pengumuman eksekusi

Koleksi museumnya lumayan banyak walaupun sayangnya kurang terawat, dibagian luar ada patung dan meriam Jagur yang benar-benar unuk dan dipercaya berdaya magis, bahkan menurut guide-nya dipercaya menyuburkan kandungan wanita (masa sih?..)ada lukisan-lukisan, ukiran yang luar biasa rapi dan terbuat dari jati besi, perabotan, prasasti, beliung, guci, dst. Nah dari cerita guide-nya kami tahu kalau di abad 19 ada pasangan hartawan belanda baik budi yang doyan membagi kupon sembako namanya keluarga De Witt, konon dari namanya inilah orang batavia menyebut uang dengan sebutan duit. juga tahu kalau Balai Kota ini juga dipakai sebagai ruang pengadilan, tempat eksekusi mati juga. Nah, zaman dulu kalau hakim udah memutuskan buat menghukum seseorang, dia tinggal teriak aja dari balkon atas, lonceng dibunyikan untuk mengumpulkan masa dan para eksekutor dan algojo melaksanakan perintahnya di panggung bawah, ini jadi tontonan dan hiburan lho, bayakngkan aja dalam sehari bisa sampai ada 8 orang yang dihukum mati. Dan tahanan yang mau dihukum gak pernah tahu mereka bakal diapakan, karena mereka sama sekali gak pernah mengikuti sidang, so unfair. Mana cara memenggal kepalanya bukan cuma sekali, tapi berkali-kali biar seru (pshycotic banget kan).

Keluar dari museum rencananya mau mengunjungi museum wayang dan keramik yang ada di bangunan lain di kanan dan kiri museum Fatahillah, tapi sepertinya anak-anak udah mulai bosan, dan gak pengen maksa juga karena takutnya malah anti kalau diajak ke museum lagi. Akhirnya kami bersantai di Cafe Batavia yang nyaman dan sejuk sambil bersyukur kalau kami dan keluarga hidup di zaman bebas merdeka buah hasil perjuangan orang-orang yang mengorbankan segalanya demi merdeka. Karena sudah lumayan sore (keluar dari museum sekitar jam 2, kami memutuskan menyudahi perjalanan kali ini sambil berjanji akan menelusuri bagian kota tua yang lainnya di kali mendatang.

Thursday, August 6, 2009

Kemiripan dalam Keluarga

Sudah dua bulan ini bang Razi (abangku yang kedua) tinggal dirumahku bersama anak dan istrinya. It's a privilege to have them in my home. Alasan pertama karena pada dasarnya aku memang senang bertemu dengan orang-orang yang dekat denganku, aku senang dengan suasana ramai bersama keluarga, dan alasan lainnya rumahku jadi gak pernah terasa sepi. Apalagi dengan seringnya suamiku lembur, maka aku bersyukur banget ada kak Ima dan keponakanku Suci yang menemani aku dirumah (karena bang Razi sendiri memang cuma pulang pada saat akhir minggu, sedangkan hari kerja dia di karantina di pusdiklatnya)

Banyak hal baru yang aku dapat dari tinggalnya mereka di rumah, tapi yang sangat unik adalah melihat anak-anakku beradaptasi memiliki saudara baru dirumah. Alhamdulillah mereka bisa beradaptasi dengan sangat baik, seperti biasanya Syahan memang agak protektif terhadap adiknya, dan begitu Suci masuk ke rumah, sikap protektif itu gak cuma ditujukan ke Sandra, tetapi juga pada Suci. Kalau Suci dan Sandra hubungannya seperti ombak, kadang baik dan akur banget, tapi kadang bisa ribut karena hal sepele..But it's normal right? they're just kids. Dan belakangan ini aku menyadari beberapa hal, yaitu kemiripan sifat anak-anak dengan kami orang tuanya (aku menganggap aku dan Rahmat adalah orang tua Suci, dan bang Razi dan kak Ima juga menganggap Syahan dan Sandra sebagai anak mereka), jadi sistem disiplin dan peraturan berlaku sama pada mereka bertiga.

Suci memiliki wajah yang sangat mirip dengan ayahnya (bang Razi), tapi jika dilihat kelakuannya...waduh..kok mirip banget ya sama aku waktu masih kecil. Seperti aku waktu kecil menganggap yang bapakku (alm) sebagai my whole world, begitu juga sikap Suci terhadap ayahnya. Suci thinks of her father as the center of her universe, gak ada yang lebih penting buat Suci selain pendapat ayahnya buat dia , kasih sayang ayahnya buat dia. Memang Suci juga sayang dan patuh pada bundanya, tapi kalau dengan ayahnya hmmm...it's just amazing. Padahal menurut cerita kak Ima, gak ada perlakuan yang berlebihan dari bang Razi buat Suci. Aku ingat sewaktu kecil gimana aku selalu sakit kalau bapak (alm) berangkat ke luar kota, dan baru bisa sembuh kalau bapak pulang, gimana aku selalu tidur didepan pintu menunggu bapak jika bapak pulang malam. The same things happen to Suci, pada saat Suci datang ke Jakarta menyusul bang Razi di Aceh dia demam tinggi, tapi begitu bertemu ayahnya panasnya langsung hilang...aneh memang, but it happens.

Kemiripan kedua aku temui pada anakku Syahan dan Sandra, Syahan selalu senang menggoda adiknya sampai terkadang membuat aku kesal, karena godaannya seolah gak akan berhenti sebelum Sandra merengek dan akhirnya menangis. Lalu bang Razi menyadarkan aku " Lihat deh Syahan dan Sandra, persis Inong sama bang Riza waktu kecil, bang Riza gak akan berhenti menggoda Inong kalau Inong belum nangis"..he..he..he.. kok bisa sih ya?

Kemiripan lain juga disadari adikku Ayu disaat dia melihat Sandra, pada saat kami di Aceh seperti biasa Sandra memiliki cara yang unik untuk melepas sepatu, dia akan menendang-nendang kakinya sampai sepatu itu lepas...Pada saat Ayu melihat dia langsung menjerit ngeri "Haaaa...kok persis aku kecil sih?", mama juga mengatakan hal yang sama disaat aku mengeluh kalau Sandra selalu kehilangan sebelah antingnya dan tidak pernah betah didandani, kata mama "Ya,persis Ayu waktu kecil tuh, antingnya gak pernah lengkap lebih dari 3 bulan, kalau rambutnya diikat, kuncirannya gak pernah utuh nyampe ke rumah". Just like Kassandra.

Coba deh perhatikan kelakuan anak teman-teman sekalian dirumah, pasti ada kemiripan yang lebih unik dibandingkan kemiripan fisik. Seperti kemiripan Suci dan ayahnya yang juga sama-sama selalu menggaruk badan sebangun dari tidur, atau kebiasaan Syahan dan Sandra juga ayahnya yang selalu menyelipkan jari-jari mereka kedalam pinggang piyama mereka disaat mereka tidur. Kemiripan yang aneh tetapi juga sekaligus mengingatkan kita kalau ternyata kita memang masih bersaudara...We are related .

Wednesday, June 17, 2009

Saying Goodbye to Yesterday....




Kenangan sama Leggo


Akhir tahun ajaran buat Syahan dan Kassandra… Tahun ini dua anak itu mengalami hal yang besar, buat Syahan dia harus meninggalkan taman kanak-kanak dan melangkah ke dunia sekolah sesungguhnya, Sekolah Dasar. Mulai sekarang Syahan harus mulai banyak belajar dan lebih sedikit bermain, tidak seperti masa TK yang banyak bermain sambil belajar. Sedangkan Kassandra sekarang melangkah ke Taman kanak-kanak setelah sebelumnya puas bermain di Playgroup. Mereka berdua juga harus meninggalkan teman-teman lamanya, ibu-ibu dan bapak-bapak Guru di Tadika Puri, rasanya hanya berterima kasih tidak cukup buat para guru di Tadika Puri, Syahan dan Kassandra banyak sekali memiliki kenangan manis disana….

Tapi ada yang berbeda dengan tahun ini, mengingat Syahan tidak bisa lagi dikatakan sebagai balita dan Kassandra pun sebentar lagi juga sudah melewati fase Balita, selain mengucapkan selamat tinggal pada sekolah dan teman-teman di sekolah mereka, mereka pun harus mengucapkan selamat tinggal pada mainan, buku, baju dan pernik-pernik yang menurut aku sudah tidak sesuai lagi dengan usianya (jelas lah bundanya yang bikin assessment, karena kalau mereka pasti tidak akan membiarkan their yesterday belongings getting out of their sanctuary). Jadi sudah beberapa hari ini aku rajin menyortir barang-barang mereka yang sudah tidak terpakai/tidak pantas lagi mereka miliki. Hal yang paling banyak aku singkirkan adalah mainan, dan betapa kagetnya aku karena jumlahnya banyak sekali… Yang kedua adalah baju, dan nomor urut terakhir adalah buku .


sebagian yang di singkirkan


Beberapa mainan masih ada yang aku sisakan, rata-rata yang tersisa adalah mainan yang memiliki nilai historis tinggi dan favorit Syahan dan Kassandra sepanjang waktu. Aku Cuma bilang “Mas Syahan, kita kan perlu tempat buat buku-buku mas Syahan, dan lebih baik dikasih orang yang gak punya mainan kan?”. Syahan dengan patuhnya mengangguk dan tersenyum…You have a good heart Syahan, I’m so proud of you. Karena sebenarnya aku tahu berat buat Syahan melepaskan mainannya, karena tiap mainan yang dia miliki merupakan kenangan akan masa balitanya yang boleh aku katakan sangat berwarna. Kalau Kassandra sih cuek aja lihat mainan disingkirkan, yang penting buat dia adalah boneka Dora, Boots, Barney, BJ dan Baby Bop masih ada…

Kesulitan melepaskan sesuatu memang agak absurd ya...contohnya saja aku, sampai sekarang ada beberapa barang yang sebenarnya aku gak perlu lagi tapi masih aku simpan-simpan entah untuk apa, ada beberapa kenangan yang selalu aku ingat-ingat, juga entah apa baiknya buat aku..he..he..he, harusnya aku memang belajar dari Syahan nih yang ikhlas melepaskan mainannya….So as one of my good friend once said “Let’s say goodbye to the good old days, and say welcome to the great tomorrow”